Kehadiran legislator di tengah warga menegaskan komitmen nyata membangun ketahanan keluarga sebagai fondasi pembangunan daerah
Samarinda, SpectrumBorneo.com — Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur dari Fraksi Partai Gerindra, H. Fuad Fakhruddin, S.Pd.I., MM, kembali menggelar Sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) ke-3 sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman masyarakat terhadap kebijakan daerah, khususnya yang berkaitan dengan pembangunan sosial berbasis keluarga.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 28 Maret 2026 pukul 13.30 WITA, bertempat di Jalan Kemuning, Kelurahan Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, menghadirkan dua narasumber kompeten, yakni Ir. Addy Suyatno, S.Kom., M.Kom., Ph.D dan Selamat Ryadi, S.Pd, dengan Tria Adinda sebagai moderator.
Perda Ketahanan Keluarga: Strategi Sosial atau Sekadar Formalitas?
Dalam pemaparannya, Fuad Fakhruddin menegaskan bahwa Perda tentang Penyelenggaraan Pembangunan Ketahanan Keluarga bukan sekadar regulasi administratif, melainkan instrumen strategis untuk menjawab tantangan sosial yang kian kompleks.
Menurutnya, keluarga merupakan benteng utama dalam menghadapi berbagai persoalan, mulai dari tekanan ekonomi, pengaruh negatif teknologi, hingga degradasi nilai sosial di tengah masyarakat.
Namun demikian, forum ini juga membuka ruang refleksi kritis. Sejumlah peserta mempertanyakan sejauh mana efektivitas Perda tersebut telah dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Jangan sampai sosialisasi hanya berhenti pada penyampaian materi, tanpa ada tindak lanjut yang konkret,” ungkap salah satu peserta dalam sesi dialog.
Peran Akademisi: Menjembatani Regulasi dan Realitas
Narasumber Ir. Addy Suyatno menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dan kolaborasi lintas sektor dalam implementasi Perda. Ia menilai bahwa keberhasilan kebijakan tidak hanya diukur dari regulasi yang disahkan, tetapi dari dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Selamat Ryadi menyoroti pentingnya edukasi berkelanjutan dalam membangun ketahanan keluarga, termasuk penguatan peran orang tua dalam pendidikan karakter, literasi digital, serta ketahanan ekonomi rumah tangga.
Forum Interaktif: Masyarakat Tak Lagi Pasif
Kegiatan berlangsung dinamis dan interaktif. Warga tidak hanya menjadi pendengar, tetapi aktif menyampaikan aspirasi, kritik, dan harapan. Beberapa isu yang mencuat antara lain:
- Minimnya program turunan dari Perda
- Kurangnya pendampingan keluarga di tingkat kelurahan
- Kebutuhan pelatihan berbasis ekonomi keluarga
- Tantangan pengasuhan anak di era digital
Hal ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma, di mana masyarakat mulai menuntut keterlibatan nyata dalam proses pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan.
Tantangan Implementasi di Lapangan
SpectrumBorneo.com mencatat bahwa sosialisasi Perda kerap menjadi agenda rutin legislatif. Namun, tantangan terbesar justru terletak pada implementasi dan pengawasan.
Tanpa dukungan anggaran yang memadai, program turunan yang jelas, serta koordinasi lintas instansi, Perda berisiko menjadi dokumen normatif tanpa daya eksekusi.
Dalam konteks ini, peran DPRD tidak hanya berhenti pada fungsi legislasi, tetapi juga pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan agar benar-benar menyentuh masyarakat.
Dari Wacana ke Aksi Nyata
Sosialisasi ini menjadi langkah penting dalam membangun kesadaran publik. Namun, keberhasilan Perda akan ditentukan oleh konsistensi implementasi dan komitmen semua pihak.
Ketahanan keluarga bukan sekadar isu sosial, tetapi juga agenda politik pembangunan daerah yang menentukan kualitas generasi masa depan.






