Beranda / Regional Kalimantan / Kasus DBD Melonjak Tajam di Banjarmasin, PMI Kewalahan Penuhi Permintaan Trombosit Jelang Nataru

Kasus DBD Melonjak Tajam di Banjarmasin, PMI Kewalahan Penuhi Permintaan Trombosit Jelang Nataru

Banjarmasin, SpectrumBorneo.com — Lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Banjarmasin mulai menimbulkan dampak serius terhadap ketersediaan darah, khususnya trombosit, yang sangat dibutuhkan pasien dengan risiko perdarahan tinggi.

Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Banjarmasin kini berada dalam kondisi kewalahan, menyusul melonjaknya permintaan trombosit hingga puluhan kantong hanya dalam satu malam.

Kepala UDD PMI Kota Banjarmasin, dr. Aulia Ramadhan Supit, mengungkapkan bahwa situasi saat ini tergolong darurat secara operasional.

“Di musim penghujan ini kita sangat kalang kabut. Sampai malam tadi saja ada permintaan hingga 65 kantong trombosit, angka yang jauh melampaui kemampuan stok harian kami,” ujar dr. Aulia, Jumat (12/12/2025).


🩸 Trombosit Tak Bisa Disimpan Lama, Lonjakan Sulit Diantisipasi

Dr. Aulia menjelaskan, tidak seperti komponen darah lainnya, trombosit memiliki masa simpan sangat terbatas, yakni hanya sekitar empat hari, dan harus diproses dari darah segar maksimal 15 menit setelah pengambilan.

Kondisi tersebut membuat PMI kesulitan mengantisipasi lonjakan permintaan mendadak.

“Itu yang menyulitkan. Produksi trombosit sangat tergantung pada donor darah segar. Ketika permintaan melonjak tiba-tiba, stok tidak bisa langsung tersedia,” jelasnya.

Situasi ini diperparah dengan meningkatnya jumlah pasien DBD yang memerlukan transfusi trombosit akibat risiko perdarahan yang menyertai penyakit tersebut.


🏥 Pasien Dewasa Mulai Dominasi Kasus DBD

Fenomena lonjakan kasus juga mendapat perhatian dari pihak rumah sakit. Direktur Utama RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin, dr. Muhammad Syaukani, menyampaikan bahwa terdapat perubahan pola pasien DBD.

Menurutnya, rumah sakit mulai mencatat pasien usia dewasa mendominasi kasus DBD, yang menandakan risiko penularan semakin luas dan tidak lagi terbatas pada kelompok usia atau lingkungan tertentu.

“Perubahan kelompok usia pasien menjadi indikasi bahwa risiko penularan semakin meluas,” ungkapnya.


🌧️ Musim Hujan Jadi Faktor Pemicu Utama

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Muhammad Ramadhan, menegaskan bahwa musim penghujan selalu menjadi periode paling rawan bagi penyakit berbasis lingkungan, termasuk DBD.

Ia menyebut berbagai faktor yang mempercepat penyebaran nyamuk Aedes aegypti:

selokan tersumbat,

wadah air terbuka,

banjir kecil yang meninggalkan genangan,

serta minimnya kesadaran pemberantasan sarang nyamuk.

“Genangan air di musim hujan menjadi tempat ideal berkembang biaknya nyamuk pembawa DBD,” ujarnya.


🚨 PMI Imbau Warga Aktif Donor Darah Jelang Nataru

Di tengah meningkatnya tekanan permintaan, PMI Kota Banjarmasin kini melakukan langkah proaktif dengan menghubungi para pendonor aktif satu per satu untuk memastikan ketersediaan darah segar.

“Antisipasi sudah maksimal kami lakukan. Kami hubungi pendonor satu per satu agar stok bisa segera diolah. Kami berharap masyarakat tidak berhenti mendonor, apalagi ini memasuki persiapan Natal dan Tahun Baru,” kata dr. Aulia.

PMI juga mendorong Pemerintah Kota Banjarmasin untuk mengeluarkan imbauan resmi kepada masyarakat agar kembali aktif mendonorkan darah sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.


📌 SpectrumBorneo.com Mencatat

Meskipun lonjakan kasus DBD belum ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB), akumulasi permintaan trombosit dinilai sudah cukup mengkhawatirkan.

“Dua hari lalu belum ada permintaan signifikan. Tapi semalam langsung masuk 65 kantong, dan belum semuanya bisa kami penuhi,” ungkap dr. Aulia.

Situasi ini menjadi peringatan serius bahwa lonjakan DBD dapat berdampak langsung pada ketahanan sistem layanan kesehatan, terutama ketersediaan darah dan komponen vitalnya.


🧭 Kesimpulan SpectrumBorneo.com

Lonjakan kasus DBD di Banjarmasin tidak hanya menjadi persoalan medis, tetapi juga krisis logistik kesehatan. Keterbatasan trombosit, sifatnya yang mudah kedaluwarsa, serta tingginya permintaan mendadak membuat PMI berada di bawah tekanan besar.

Tanpa partisipasi aktif masyarakat dalam donor darah dan langkah pencegahan lingkungan yang serius, risiko krisis layanan kesehatan berpotensi semakin meluas menjelang akhir tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *