Beranda / Politics / “BELAJAR DARI IRAN: ANTARA KEDAULATAN TEKNOLOGI DAN KERAGUAN STRATEGIS INDONESIA”

“BELAJAR DARI IRAN: ANTARA KEDAULATAN TEKNOLOGI DAN KERAGUAN STRATEGIS INDONESIA”

SpectrumBorneo.com – Dalam lanskap geopolitik modern, kekuatan suatu negara tidak lagi hanya diukur dari jumlah pasukan atau luas wilayah, melainkan dari kemampuan teknologi militernya, khususnya dalam penguasaan sistem persenjataan strategis seperti rudal jarak jauh.

Iran menjadi contoh nyata bagaimana sebuah negara yang diembargo selama lebih dari empat dekade mampu bertransformasi dari korban serangan rudal menjadi kekuatan rudal regional yang diperhitungkan. Pertanyaan yang kemudian muncul secara logis adalah:
mampukah Indonesia menempuh jalan yang sama?

Indonesia: Ada, Tapi Belum Mandiri

Secara faktual, Indonesia bukanlah negara tanpa rudal. Berbagai sistem telah dimiliki oleh TNI, mulai dari:

  • rudal balistik taktis KHAN
  • rudal anti-kapal Exocet dan C-705
  • hingga sistem pertahanan udara modern

Namun harus diakui secara jujur:
kemampuan tersebut masih bersifat operasional, bukan kemandirian teknologi.

Bahkan hingga saat ini, Indonesia belum mampu memproduksi rudal balistik secara mandiri dan masih bergantung pada teknologi luar negeri

Di sinilah letak perbedaan mendasar dengan Iran.

Iran: Dari Ketertinggalan Menuju Kemandirian

Iran tidak memulai dari kekuatan.
Ia memulai dari keterpaksaan.

Ketika dihujani rudal oleh Irak pada dekade 1980-an dan tidak mampu membalas, Iran tidak memilih untuk selamanya bergantung pada impor. Sebaliknya, mereka:

  • membeli rudal
  • membongkar dan mempelajari
  • melakukan reverse engineering
  • membangun industri sendiri

Dari proses panjang itu, lahirlah sistem rudal seperti Shahab, Sejjil, hingga Fattah.

Apa yang dilakukan Iran bukan sekadar pengembangan militer, tetapi pernyataan kedaulatan teknologi.

Indonesia: Mampu Secara Potensi, Lemah dalam Keputusan

Jika berbicara potensi, Indonesia sesungguhnya tidak kalah:

  • memiliki sumber daya manusia
  • memiliki lembaga riset seperti BRIN
  • memiliki industri pertahanan (PT Pindad, PT DI, PT Dahana, PT LEN)
  • memiliki program roket nasional

Namun persoalannya bukan pada kemampuan, melainkan pada keberanian politik dan konsistensi kebijakan.

Indonesia terjebak dalam paradigma:

membeli lebih cepat daripada membangun

Padahal, ketergantungan jangka panjang justru:

  • melemahkan kedaulatan
  • membuka kerentanan strategis
  • dan membatasi daya tawar internasional

Kendala Yuridis dan Politik

Tidak dapat dipungkiri, Indonesia terikat pada berbagai komitmen internasional:

  • Non-Proliferation Treaty (NPT)
  • Zona Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara

Namun perlu ditegaskan:
pengembangan rudal konvensional tidak dilarang oleh hukum internasional.

Artinya, secara yuridis: 👉 Indonesia memiliki ruang legal untuk mengembangkan rudal strategis non-nuklir

Masalahnya bukan hukum.
Masalahnya adalah kemauan negara.

Dilema Indonesia: Negara Damai atau Negara Siap?

Indonesia selama ini dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi prinsip perdamaian. Namun dalam realitas geopolitik:

  • Laut China Selatan memanas
  • Indo-Pasifik menjadi arena rivalitas global
  • Ketegangan militer meningkat

Dalam situasi demikian, pertahanan tidak bisa lagi bersifat simbolik.

👉 Pertanyaan mendasarnya: Apakah Indonesia ingin sekadar aman secara diplomatik, atau juga kuat secara strategis?

Pelajaran Paling Penting dari Iran

Iran mengajarkan satu hal yang sangat mendasar:

“Keterbatasan bukan alasan untuk lemah, tetapi alasan untuk mandiri.”

Mereka tidak menunggu diakui.
Mereka membangun kekuatan.

Indonesia, di sisi lain, justru sering:

  • menunda
  • ragu
  • dan bergantung

Padahal sejarah membuktikan:
negara yang tidak menguasai teknologi pertahanan akan selalu berada dalam posisi tawar yang lemah.

Mampu, Tapi Ditentukan oleh Keberanian

Indonesia sangat mungkin untuk:

  • mempelajari
  • mengembangkan
  • bahkan memproduksi rudal setara Iran

Namun itu hanya akan terjadi jika:

  • ada keberanian politik
  • ada konsistensi kebijakan jangka panjang
  • dan ada visi kedaulatan teknologi

Tanpa itu, Indonesia akan tetap menjadi: 👉 pengguna, bukan pencipta
👉 pembeli, bukan pengendali

Pada akhirnya, persoalan ini bukan tentang teknologi semata.

Ini adalah soal pilihan bangsa:
berdiri di atas kaki sendiri, atau terus berjalan dengan tongkat milik orang lain.

Dan sejarah tidak pernah mencatat negara besar lahir dari ketergantungan.

Penulis:
M. Supian Noor, SH., MH.
(Advokat & Mediator Pengadilan )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *